Dalam Atap di Bawah Langit - Futami Sui
Dalam Atap di Bawah Langit
Futami Sui
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun: 2009
Terjemahan: Ina Oktavianti
Jumlah Volume: 2 (dua)
Manga ini adalah salah satu pelopor koleksi manga saya pada zaman SMP. Sekolah saya saat itu memang tidak terlalu jauh dari Toko Buku Togamas. Yes, toko buku murah favorit banyak orang. Di masa itu, saya demen banget melipir ke sana sepulang sekolah. Sekadar untuk cuci mata atau mencomot satu-dua buku yang menarik.
Dalam Atap di Bawah Langit memang bukan manga yang tebal. Ia tipe manga dengan genre slice of life yang disajikan dalam bentuk 4-koma atau empat panel. Volumenya hanya 2, dan kalau keduanya ditumpuk pun masih kalah tebal dari komik serial cantik satuan.
Ketipisannya inilah yang jadi pemikat saya kala itu. Terlebih, ilustrasi sampul depannya menarik mata saya. Padahal ringkasan yang tertulis di bagian belakang buku bisa dikatakan nggak terlalu menarik. Tapi, karena saat itu saya sedang mencari bacaan ringan, jadilah dua buku ini masuk ke keranjang.
Yuk mari, cek review dan ulasan manga/komik berjudul Dalam Atap di Bawah Langit karya Hutami Sui berikut ini.
Capeknya Jadi NEET
Cerita ini berputar pada kehidupan Sagawa Kanae. Selepas lulus SMA, Kanae memutuskan untuk menikmati masa liburannya tanpa memikirkan ingin lanjut kuliah atau bekerja. Dia secara sadar mengakui kalau dia tidak ada niat untuk jadi apapun. Maka, jadilah Kanae seorang NEET, sebuah akronim dari 'Not in Education, Employment, or Training'.
Awalnya, Kanae sangat menikmati hidup sebagai NEET--bangun siang dan minim kegiatan. Terlalu banyak waktu luang justru membuat Kanae semakin memikirkan perkara bekerja.
Dia sempat mencoba jadi kasir toko selama sehari dengan bantuan koneksi Ibunya dan setelah melalui pengalaman singkat itu, dia cukup sadar kalau bekerja adalah hal yang merepotkan. Bukannya semakin malas, dia malah semakin penasaran dengan dunia kerja.
Kanae pun mulai mencoba terjun sebagai golongan pencari kerja. Beberapa kali dia mencoba mencari apa yang ingin dia lakukan serta membandingkan dirinya dengan orang-orang sekitarnya.
Sifatnya yang masih kekanakkan kadang membuat dia maju-mundur. Dia masih belum paham betul apa makna bekerja, tapi ketika melihat lingkungan sekitarnya, mau tidak mau dia jadi terus mencari.
Setiap orang memberi pendapat dan motivasi yang berbeda-beda tentang bekerja. Tapi cuma satu yang benar-benar saya percaya, yaitu ibunya Kanae:
Akhirnya Bekerja!
Setelah pencarian yang lumayan panjang, Kanae akhirnya mendarat di sebuah toko mainan. Ia diterima sebagai pegawai paruh waktu alias part-timer di sana.
Kerja paruh waktu dipilih dengan pertimbangan ia masih mencari pengalaman menjadi anggota masyarakat. Bukannya merasa lega, ia justru mendapatkan berbagai tantangan baru dari bertambahnya wawasan tentang dunia bekerja.
Sebagai kasir dan pegawai toko, ia banyak mengalami interaksi menarik dengan rekan kerja dan pelanggan. Banyak juga kejadian dan percakapan yang cukup relatable dengan kehidupan saya sebagai sesama golongan pekerja.
Ternyata, bekerja di belahan dunia manapun, pengalaman yang didapat pun tidak akan jauh berbeda. Mungkin perbedaannya hanya terletak pada budaya yang berlaku. Selebihnya, Kanae adalah saya dan pekerja lainnya: malas bangun pagi, takut dengan ketidakpastian masa depan, bingung mencari hobi di waktu senggang, terbebani dengan tanggung jawab, dan kesepian.
Ketika Kanae sudah mulai merasa terlalu nyaman dengan part-timenya, timbul pertanyaan baru: "Sampai kapan aku kerja seperti ini?". Pada akhirnya, Kanae memutuskan berhenti paruh waktu dan kembali ke perjuangan awal, yaitu mencari pekerjaan tetap.
Namun, kali ini dia punya kepercayaan diri lebih karena membawa sedikit pengalaman dari kegiatan part-time. Pemikirannya tentang bekerja mengalami banyak pergeseran. Tetap dengan ketakutan yang sama akan segala ketidakpastian hidup, namun lebih yakin dengan apa yang ia miliki.
Ini Menarik...
Sejujurnya saya dulu tertarik membeli manga ini karena ilustrasi sampulnya yang manis. Di usia puber, ketika saya membaca ceritanya, saya agak kecewa karena slice of life yang ditawarkan ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Saya kira akan seperti cerita Hai! Miiko yang benar-benar ringan. Sebagian besar dialog dan pemikiran Kanae saya baca sekilas-sekilas saja.
Di usia 25 tahun ini, saya membaca sepotong kisah Kanae dengan perasaan "Aku setuju!" dan "Sama banget." Manga-ka Futami Sui berhasil menuliskan semua keraguan dan kebingungan yang kadang masih muncul di benak saya, sekalipun saat ini saya sudah bekerja hampir 2 tahun, melalui Kanae.
Misalnya, ketika Kanae diberi penjelasan tentang pajak yang harus dibayar oleh pekerja. Juga tentang keraguannya tentang kemampuan dan keinginannya sendiri. Atau ketika dia mulai overthinking dari perihal pekerjaan ke resesi ekonomi (I truly felt that in a spiritual level!).
Ada sedikit rasa senang dan lega ketika melihat tingkah dan pola pikir Kanae. "Oh, aku pikir cuma aku aja yang pernah mikir gini?", semacam itu. Rasanya kenaifan saya sebagai anggota masyarakat cukup terwakili oleh pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak Kanae. Nggak cuma tokoh utama, tokoh lain pun menyajikan pandangan dari situasinya masing-masing.
Seperti Mayu, sahabat Kanae yang tampak nyaman dengan pekerjaan part-time selama masih bisa menabung. Ada Yasaka yang 'terpaksa' nyaman karena sudah terlalu lama bekerja paruh waktu.
Kazu si pekerja keras yang sempat kehilangan pekerjaan karena kantornya bangkrut tapi karena kegigihannya nggak lama kemudian dapat pekerjaan baru. Ada lagi Aoyama yang menjalani part-time sambil merintis mimpinya untuk dapat pekerjaan yang dia inginkan.
Setiap tokoh memberi jawabannnya masing-masing untuk pertanyaan-pertanyaan dari Kanae tentang kehidupan bekerja dan bermasyarakat. Karena menonjolkan kehidupan sehari-hari, percakapannya pun dibuat seringan mungkin. Jika topik yang dibicarakan mulai berat, Kanae otomatis 'mundur'.
Manga ini bisa dibaca sebagai bacaan santai maupun teman 'berpikir'. Penyajian 4 panel membuatnya lebih ringkas, tapi sayang banyak juga humor yang tidak tersampaikan dengan baik karena masalah teknik penerjemahan. Sesuatu yang sangat wajar di dunia manga terjemahan Jepang-Indonesia, terutama di jenis 4-koma seperti ini.
Simpulan
Sebagai manga, tentu saja 'Dalam Atap di Bawah Langit' tidak bisa ditangkap sebagai sesuatu yang bisa dipraktikkan mentah-mentah. Gambaran Kanae dan lingkungannya memang terlalu santai, jauh dari apa yang saya dengar tentang kehidupan di Jepang (dari dosen maupun teman-teman saya yang bekerja di sana). Tapi tidak menutup kemungkinan ada banyak juga masyarakat Jepang yang masih punya pola pikir seperti Kanae dan teman-temannya.
Membaca manga ini sekarang membuat saya senang, tapi juga agak sedih. Andaikan semua pencari kerja dan perusahaan bisa sesantai kehidupan Kanae, tentu tidak akan terjadi gelombang stress karena kegiatan mencari kerja.
Pada kenyataannya, saya hidup di lingkungan di mana menyusun CV dan menambah daftar achievement adalah sesuatu yang dipandang amat krusial. Terlebih bagi mereka yang ingin bekerja di perusahaan bonafid atau start-up.
Kebetulan ketika saya sedang menulis ulasan ini, saya pun sedang rajin menengok LinkedIn, sebuah media sosial bagi para pencari kerja dan pekerja. Hampir setiap hari saya melihat update lowongan kerja, pencapaian seseorang, serta motivasi untuk selalu mencari dan mencari kesempatan.
Budaya barat menyebutnya hustle culture, hal yang sempat booming dan sekarang mulai dipandang sebagai budaya beracun.
Mencari kerja itu sendiri bukan sesuatu yang toksik. Kodrat manusia adalah berdaya, bermanfaat, dan mencari penghidupan, dan bekerja adalah jawabannya. Tapi, saya berharap persaingan dalam mencari kerja ini tidak jadi dorongan negatif dan bumerang bagi diri sendiri.
Sepatutnya kita memotivasi diri untuk berkembang bukan semata karena ingin mendapat pekerjaan dan status. Bukan juga karena tidak ingin terjerumus dalam fase NEET ataupun pengangguran. Melainkan karena murni ingin jadi pribadi yang lebih baik, agar bisa berkontribusi di masyarakat.
Dengan begitu, perjalanan self development pun bisa dinikmati tanpa beban untuk meraih status tertentu. Ya... Itu pandangan ideal saya secara pribadi aja.
***
Gimana pendapatmu tentang manga ini? Atau, ada manga dengan tema serupa yang bisa direkomendasikan? Tinggalkan komentar di bawah, yuk!





dirimu sekarang adalah kanae
ReplyDeletedulu juga pas pertama kerja ku pernah suka banget komik itu sampe sering kupinjem dari kamarmu wua ha ha ha ha
Kanae adalah kita di usia 20-30an TT_TT Tapi sekarang aku ingin jadi ibunya Kanae ajah.
DeleteYes, berarti aku sudah membeli komik yang bermanfaat (tanpa disengaja).