The Moon & Lake - Ashihara Hinako
| Texture: watercolor texture by unknown (please DM for credit!) | Cover: shopee.co.id/ahomeofpreloved |
The Moon & Lake
Ashihara Hinako
Penerbit: Elex Media Computindo
Tahun: 2010-Indonesia, 2007-Jepang
Terjemahan: Torana Astrid
Jumlah Volume: 1 (satu/serial cantik)
Masih dari koleksi manga di rak buku, kali ini saya mau me-review sebuah manga dengan citarasa novel. Ini juga hasil dari mantengin rak komik Togamas sekitar 2 jam di zaman SMP.
Memang pada dasarnya saya lebih menikmati cerita pendek, jadi dalam mencari komik pun saya suka yang bentuknya one-shot. Kalaupun seri, lebih baik cari yang volumenya nggak banyak-banyak amat seperti si manga Dalam Atap di Bawah Langit. Selain itu, saya gampang banget kepincut sampul gambar yang warnanya cantik-cantik.
Dua alasan mendasar ini yang membuat The Moon & Lake akhirnya mantap saya beli pakai uang jajan yang cuma segitu-gitunya. Bersyukur sekali ternyata ini jadi salah satu komik favorit yang selalu saya baca berulang-ulang tanpa bosan.
Komik serial cantik ini memiliki dua cerita di dalamnya. Pertama, The Moon & Lake yang jadi judul utama. Cerita lainnya yaitu December's Nora yang porsi halamannya hampir sama dengan cerita pertama. Alih-alih sebagai sampingan, cerita kedua juga punya pesonanya sendiri, lho.
Yuk mari, cek review dan ulasan manga/komik The Moon & Lake karya Ashihara Hinako berikut ini.
The Moon & Lake - Tentang Ego
Di awal cerita, pembaca sudah diperkenalkan dengan nama 'Ichihara Yusei'. Ia adalah novelis yang sudah almarhum, tetapi namanya masih mengharum. Sebabnya, salah satu karyanya yang dianggap cukup kontroversial berjudul 'The Moon & Lake'. Novel itu menceritakan kisah perselingkuhan sang novelis sendiri yang disembunyikan selama bertahun-tahun.
Tokoh utama cerita ini adalah cucu si novelis yang bernama Kazuna. Beberapa kilas balik menjelaskan kalau Kazuna tidak suka dengan novel tersebut. Kalau di posisi Kazuna, mungkin saya bisa paham rasa kesal dan malu ketika mendengar orang-orang membicarakan, katakanlah, aib anggota keluarga sendiri. Terlebih aib itu terbongkar dan diketahui secara luas melalui sebuah karya sastra yang bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Elegan, tapi ya tetep malu-maluin.
Suatu hari, nenek Kazuna justru mengajukan permintaan aneh: Kazuna diminta untuk mengunjungi dan merawat 'selingkuhan' almarhum kakeknya yang katanya sedang sakit. Nah lho, kok agak kocak? Meski tidak paham maksud dari permintaan tersebut, karena dia berada di pihak neneknya, Kazuna tetap menurut. Dia terpaksa meninggalkan rencana liburan bersama teman-teman dan pacarnya, Kouta.
Sesampainya di desa tempat tinggal sang 'selingkuhan', Kazuna justru disambut oleh pemandangan yang mengejutkan. Sosok wanita lembut dan rapuh yang dia bayangkan sebagai selingkuhan kakeknya hanyalah ilusi. Mizuhashi Touko ternyata merupakan petani lansia yang bersemangat, ceria, dan ramah.
Dari sebuah obrolan dengan Mizuhashi Touko, Kazuna pelan-pelan mencoba melihat skandal kakeknya itu dengan kacamata lain. Tidak hanya fakta seputar kisah di balik novel sang kakek, Kazuna juga mendapatkan cara pandang baru untuk keraguan yang dia alami terhadap Kouta.
Ini Menarik...
Ada satu hal yang perlu diperhatikan dari konflik di cerita ini. Tidak seorangpun yang benar-benar memahami perasaan Ichihara Yusei yang sebenarnya--baik itu Kazuna, nenek Kazuna, Mizuhashi Touko, maupun pembaca novel dan pembaca manga ini. Bagaimanapun, novel tersebut diterbitkan setelah sang penulis meninggal. Hasil akhirnya bisa jadi merupakan hasil 'ramuan' penerbit yang tidak lepas dari otak bisnis demi meraup rasa penasaran maupun keuntungan dari konsumen.
Plot cerita ini bagi saya sangat unik dan segar. Saya bisa mendapatkan berbagai pandangan tentang cinta yang berbeda-beda, mulai dari nenek Kazuna yang tegar, Mizuhashi Touko yang polos, dan Kazuna sendiri yang berusaha membedakan antara rasa suka dan ego. Keraguan, kebimbangan, dan kebingungan masing-masing tokoh disampaikan dengan apa adanya.
Di samping itu, para tokoh perempuan digambarkan dengan karakter yang berdiri sendiri, bukan tipikal tokoh cewek komik serial cantik yang dibuat terombang-ambing karena tingkah laku lelaki. Baik Kazuna, nenek Kazuna, maupun Mizuhashi Touko mempunyai pendirian dan ketegasan untuk membuat keputusan terbaik bagi dirinya masing-masing. Ketiganya juga nggak mengkonfrontasi cara pandang orang lain. Meski begitu, mereka tetap menunjukkan sisi lemah sebagai perempuan yang, bagi saya, sangat wajar dan bisa dimaklumi.
December's Nora - Pencarian Tempat Pulang
Cerita selanjutnya dibuka dengan premis yang agak menyeramkan, awalnya saya kira cerita ini bertema horor.
Sebuah rumah terbakar sepuluh tahun lalu dan penghuninya selamat, kecuali seorang anak bernama Nacchan. Kita akan sedikit mundur untuk berkenalan dengan Nacchan dan tokoh utama, Sae. Nacchan adalah tetangga baru Sae yang kemudian akan menjadi teman baik. Nacchan memiliki penampilan seperti putri: rambut panjang dengan pita dan memakai pakaian penuh renda. Sama seperti rumahnya yang dicat berwarna putih dan merah muda layaknya rumah kue di buku cerita dongeng.
Dalam rumah kue itu, Sae menyaksikan situasi keluarga yang aneh. Mama Nacchan tampil sangat bersahaja, cocok dengan rumah mereka yang seperti rumah di negeri dongeng. Sementara Papanya justru memiliki penampilan biasa--sangat biasa. Nacchan sendiri bilang kalau dirinya hanyalah tokoh di dunia ideal yang diharapkan sang ibu (kata-kata yang sangat berat dari anak umur 5 tahun).
Sae kecil tidak paham, tapi insting polosnya melihat Nacchan tidak nyaman dengan hidupnya saat itu. Secara spontan Sae mengajak Nacchan untuk berpetualang alias main jauh dari rumah tanpa diketahui orangtua mereka (berbahaya sekali!). Ide ini didapatkan Sae dari salah satu buku cerita favoritnya, Petualangan Besar Nora. Petualangan kecil itu membawa mereka bertemu dengan seekor kucing hitam kecil yang mirip seperti Nora, kemudian diputuskanlah Nora akan dipelihara bersama di sebuah bukit. Bukit itu jadi semacam tempat rahasia bagi Sae dan Nacchan.
Sayangnya, setelah petualangan besar mereka terbongkar, Mama Nacchan marah besar. Mereka tidak lagi diizinkan main bersama lagi untuk beberapa bulan lamanya. Ketika Sae ingin mencoba meminta maaf pada Mama Nacchan, terjadilah kebakaran itu. Kedua orangtuanya ditemukan selamat, tetapi tidak dengan Nacchan. Tubuhnya tidak ditemukan di puing-puing. Dia tidak ada di mana-mana. Bersamaan dengan hilangnya Nacchan, Nora pun hilang entah ke mana.
Sae yang berusia 16 tahun saat ini, masih belum menemukan jawaban dari teka-teki hilangnya Nacchan. Keluarga Nacchan sudah lama pindah dan kehidupan berjalan seperti biasa lagi. Suatu hari, Sae melihat Nora di jalan. Dia hampir saja tertabrak sepeda ketika sedang mengejar kucing itu.
Sang pengemudi sepeda, seorang remaja laki-laki bernama Taura, ternyata juga sedang mencari kucingnya yang hilang. Sae pun memutuskan untuk membantu Taura dalam pencarian tersebut. Siapa sangka ternyata pencarian kucing milik Taura itu membawa Sae pada jawaban atas teka-teki yang sudah lama mengendap dalam dirinya.
Ini Menarik...
Dibandingkan cerita pertama, kisah Sae dan Nacchan ini jalan ceritanya lebih ramah untuk semua usia. Mungkin karena saya merasa pesan moral tentang keluarga yang lebih ditonjolkan di sini. Puncak dan resolusi konfliknya pun cukup mudah ditebak. Dari cerita ini, saya mendapat pesan bahwa makna rumah bukanlah bangunan yang ditinggali keluarga, melainkan tempat di mana perasaan kita disambut dengan baik untuk pulang. Entah itu oleh keluarga, saudara jauh, sahabat, atau bahkan hewan peliharaan.
Cerita ini berkesan karena dijalin dengan sangat rapi. Setelah baca cerita pertama yang lumayan dramatis dan bikin greget, membaca kisah Sae dan Nacchan meninggalkan rasa hangat tersendiri di hati. Poin tambahan, ada banyak gambar kucing lucu di dalamnya. Pokoknya cocok banget jadi kisah penutup *chef's kiss*.
Simpulan
Saya sudah membaca beberapa karya Ashihara Hinako dan selalu tertarik dengan penyajian ceritanya: halus, rapi, serta penyampaian dialog dan humor yang natural. Mungkin ciri ini yang membuat karya-karyanya lebih terasa 'novel' dan 'drama' dibandingkan 'manga' bagi saya pribadi. Sang pengarang sangat lihai dalam menggambarkan situasi dan kondisi psikis tokoh-tokohnya dengan ekspresi yang tidak berlebihan.
Opini ini rupanya didukung oleh beberapa karyanya yang memang diangkat ke layar lebar dan televisi. Sand Chronicles (Sunadokei) adalah salah satu karyanya yang menyinggung kesehatan mental dalam balutan tema romantis. Ceritanya dibuat menjadi film dengan sangat apik. Saya sampai ikutan terharu dan sedih ketika nonton :')
Secara keseluruhan, The Moon & Lake sangat direkomendasikan bagi penggemar manga terutama serial cantik dan genre drama-romantis. Karya Ashihara Hinako lainnya yang sayang untuk dilewatkan yaitu Sunadokei, Pinky Promise, dan Piece (ini banyak plot twist-nya, seru banget!).
Pernah baca manga menarik karangan Ashihara Hinako lainnya? Atau mungkin ada rekomendasi manga yang mirip? Berbagi di pojok komentar di bawah ini, yuk :)
Comments
Post a Comment
Pernah baca atau tertarik baca? Bagikan komentar di bawah ini ya.