Gadis Minimarket - Murata Sayaka

Texture: crazykira-recources@deviantart | Cover: ebooks.gramedia.com


Gadis Minimarket

Murata Sayaka

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun: 2016

Terjemahan: Ninuk Sulistyawati


Ada pesona tersendiri dalam cerpen dan novelet yang membuat saya selalu melirik keduanya di toko buku manapun. Selain karena membaca novel tebal seringkali membuat saya mengantuk, kedua jenis karya tersebut rasanya seperti kado ulang tahun yang tidak diduga-duga. 

Dalam narasi kurang dari 200 halaman, saya seolah diajak naik roller coaster--naik, turun, ketawa, takut, lega, sampai bisa berlinang air mata. Rasanya selalu kagum pada para sastrawan yang begitu lihainya membangun cerita dan mengolah karakter, menciptakan luasnya sastra dalam ruang sesempit itu.

Kali ini saya berlabuh pada novelet yang sudah lama ramai dibicarakan para penggemar buku: Convenience Store Woman, atau Gadis Minimarket, karya penulis Jepang bernama Murata Sayaka. Murata-san ternyata sudah menelurkan berbagai karya sejak awal 2000-an. Selama menjadi penulis juga, ia bekerja sebagai pegawai paruh waktu di minimarket. Tidak heran detail kehidupan bekerja di minimarket dituliskan dengan amat baik di sini.

Yuk mari, cek review dan ulasan novel Convenience Store Woman karya Sayaka Murata berikut ini.

Gadis Minimarket

Kisah Furukura Keiko dibuka oleh kegiatan di sebuah minimarket bernama Smile Mart yang sibuk. Ia sudah menjadi pegawai di toserba itu sejak awal pembukaan toko. Belasan tahun telah terlewati, manajer dan pegawai datang silih berganti. Hanya Keiko yang bertahan di sana, menikmati kesehariannya sebagai bagian dari minimarket.

Saat masih kecil, Keiko sering memperlihatkan cara pandang dan sikap yang unik dan agak nyeleneh dalam menghadapi berbagai peristiwa. Keluarga dan lingkungannya menanggapi itu dengan perasaan risih. Alih-alih mengajak berkomunikasi dan memberi ruang yang tepat untuk 'keanehan' Keiko, orang dewasa di sekitarnya justru menganggap ia sakit dan harus disembuhkan. 


Semua orang menghilangkan bagian-bagian dari hidupnya yang dianggap aneh oleh orang lain. Mungkin itulah yang disebut sembuh.

- hal. 95 

Ia kemudian tumbuh menjadi orang yang menahan diri dan mencari aman dengan meniru tingkah orang lain. Dia tidak tega melihat keluarganya menanggung akibat dari perbuatannya yang tidak jarang berujung pada kekacauan. Keiko menjalani hidup normal dengan 'menyerap' dari orang-orang di sekitarnya, tanpa benar-benar memahami apa itu 'normal'. Dari apa yang sudah dia lihat selama ini, kenormalan berarti melebur menjadi satu dengan masyarakat, bergerak dan berpikir dengan cara yang sama. 

Ketika akhirnya Keiko diterima sebagai pegawai minimarket di usianya yang ke-19, ia merasa sukses mematahkan kekhawatiran orang-orang tentang bagaimana ia akan terjun dalam kehidupan bermasyarakat. Sayangnya, itu tidak menghentikan tuntutan mereka terhadap Keiko. Di usia yang ke-36 tahun, pertanyaan dan harapan orang-orang pada Keiko justru semakin bertambah. Ia bahkan dipaksa untuk melepaskan minimarket yang sudah menjadi bagian dari hidupnya, hanya demi berjalan di jalan yang sama dengan orang lain.

Miniatur Masyarakat Sosial

Sang penulis memandang minimarket sebagai miniatur sosial melalui Keiko yang mempelajari cara bermasyarakat. Kenormalan di minimarket, bagi Keiko, adalah apa yang dituntut oleh orang-orang sekitarnya selama ini. Dunia yang tenang dan tanpa riak adalah sesuatu yang diinginkan semua orang. Layaknya toserba yang selalu bersih, tenang, dan menyediakan segala kebutuhan.

Minimarket adalah tempat yang wajib dibuat normal. Hal asing harus segera dihilangkan. Atmosfer merisaukan tadi telah dihilangkan, dan para pelanggan mulai berkonsentrasi membeli roti dan kopi seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa.

- hal. 63

Minimarket adalah tempat di mana Keiko merasa jadi manusia. Sebelum bekerja di sana, ia selalu mencari petunjuk dan cara untuk menjadi normal. Ia merasa mendapatkan jawaban yang selama ini dicari ketika dibimbing menjadi pegawai minimarket. SOP dan aturan yang wajib dipelajari, diterapkannya dengan sepenuh hati. Keberhasilan menerapkan petunjuk dan aturan itu membuat Keiko merasa dianggap dan dihargai sebagai manusia 'normal'. Ruang kecil bernama minimarket ini adalah dunia bagi Keiko di mana ia merasa terlahir kembali.

Kemunculan tokoh Shiraha kemudian menjadi semacam 'riak', menggoyahkan kehidupan Keiko yang tenang. Jika Keiko digambarkan sebagai manusia naif yang selalu berusaha mengikuti alur, Shiraha adalah orang yang sedang berusaha menepi dari alur. 

Penulis merefleksikan Shiraha sebagai manusia yang sudah lelah dan ingin keluar dari konformitas. Namun, dia kesulitan karena tidak punya keberanian yang cukup dan sudah kadung terinjak-injak. Shiraha mewakili mereka yang marah sekaligus bingung--berhenti jadi bagian dari masyarakat dan dikucilkan, atau kembali bergabung demi bertahan hidup.

Dunia normal adalah dunia yang tegas dan diam-diam selalu mengeliminasi objek yang dianggap asing. Mereka yang tak layak akan dibuang. 

- hal. 82

Ini Menarik...

Meski terlihat membosankan, namun rutinitas di minimarket adalah kehidupannya yang memuaskan dan berharga bagi Keiko. Sedangkan di mata masyarakat sekitarnya dan para pembaca seperti saya, kehidupan itu mungkin terlalu monoton. Ironis, karena siklus yang monoton ini adalah produk dari bagaimana masyarakat 'memenjarakan' karakter Keiko di masa kecil.

Seperti Keiko, tokoh Shiraha juga merupakan bentuk lain dari 'produk' kegagalan masyarakat dalam menghadapi perbedaan. Pada kenyataannya, tidak sedikit juga orang-orang seperti Shiraha yang kesal dengan perlakuan masyarakat terhadap suatu anomali. 

Tidak berdaya karena kurangnya dukungan, pada akhirnya dia tersingkirkan secara alami. Niatnya yang baik kemudian digerogoti oleh amarah dan berubah menjadi semacam kedengkian yang jadi bahan bakar untuk berpikir misoginis.

"Jangan mengatakannya seolah hal itu mudah dilakukan. Bagi kaum laki-laki, itu lebih berat dibandingkan kalian para perempuan. Kalau belum seutuhnya terjun ke masyarakat, berarti kami harus bekerja. Setelah bekerja kami dituntut menghasilkan banyak uang, setelah itu menikah dan memiliki keturunan. Dan masyarakat akan terus menghakimi. Jangan samakan kami dengan kalian para perempuan,"

 - Shiraha, hal. 92

Novel ini juga menyinggung bagaimana masyarakat kita suka sekali ikut campur dalam kehidupan orang lain. Hal paling sederhana yang seringkali dilakukan tanpa sadar adalah mempertanyakan pilihan orang lain secara gamblang. Lebih jauh lagi, kita suka menghakimi pilihan tersebut tanpa mengetahui alasan di baliknya.

"Aku tak bisa terus seperti ini? Maksudnya aku tak bisa terus menjalani kehidupan yang kujalani sekarang? Kenapa kau bicara begitu?"

Aku bertanya karena benar-benar ingin tahu, tapi aku mendengar suami Miho berbisik "gawat". 

- hal. 81

Simpulan

Dari kenaifan Keiko, saya bisa menyadari bahwa bermasyarakat itu melelahkan jika kita tidak punya pegangan. Perihal menjalani hidup, nilai dari sebuah 'normal' dan 'abnormal' adalah sesuatu yang sangat subjektif. Selama merasa nyaman dengan apa yang kita lakukan, dan yang terpenting adalah tidak mengganggu orang lain, maka kita tidak butuh validasi siapapun. 

Hanya kita sendiri yang berhak menyetir kehidupan ini tanpa harus dicampuri opini orang lain. Kita hanya perlu menyadari sepenuhnya kewajiban untuk menanggung risiko yang menempel di setiap pilihan yang kita buat.


Ketika bercermin, saya menemukan Keiko, Shiraha, dan orang-orang sekitar mereka dalam diri saya sendiri. Apakah kamu juga begitu? Atau mungkin kamu hanya salah satu dari mereka?

Comments

  1. Salah satu buku terbaik yang aku baca tahun ini. Bukunya nggak terlalu tebal, tapi banyak sekali nilai dan pesan moral yang bisa aku petik dari bacaan ini. Aku menemukan banyak "Keiko" di sekitar kita, yang susah payah menjalani hidup sesuai standar "normal" orang lain. Akhirnya, banyak yang hidupnya terkesan fine-fine saja, namun di dalam mereka merasa terpenjara. Kesimpulan yang kamu tulis itu betul banget. Kalau kita punya prinsip/value yang kuat, kita nggak butuh lagi pengakuan dari masyarakat. Cukup diri sendiri yang tahu batas dan kapasitas, kalau dapat pujian dari orang lain, anggap aja itu bonus 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Kak Jane, terima kasih sudah berkunjung 🥺 Btw kita sesama pejuang melawan eksim nih hihihi

      Bukunya nggak setebal novel kebanyakan, tapi banyak pelajaran yang bisa diambil (teruma untuk manusia dengan quarter-life crisis macam aku). Dan bener banget, pujian adalah bonus, bukan sesuatu yang harus jadi fokus kehidupan kita :)

      Delete

Post a Comment

Pernah baca atau tertarik baca? Bagikan komentar di bawah ini ya.

Popular Posts